Seluler dalam Industri Logam

Desember 31, 2008 at 4:10 pm (Uncategorized)

Jalan raya di depan salah satu bank milik negara cabang Talang, Tegal sore itu terlihat ramai. Lalu-lalang dari kendaraan bermotor terlihat seperti tak bersahabat. mereka seperti enggan tuk memberi kesempatan kepada pejalan kaki untuk menyeberang.

Di sebelah timur bank tersebut, terdapat sebuah gang kecil. Gang itulah yang sering dilewati Nurzaman Afif, seorang distributor logam yang berasal dari Talang, Tegal, Jawa Tengah, meski sekedar untuk berjalan-jalan mengusir penat, maklum rumahnya memang berada di belakang bank tersebut

Di daerah itu memang banyak orang yang menggantungkan hidupnya sebagai pengrajin logam, seperti teko air, kubah masjid, knalpot, dan lain-lain. semuanya itu masih bersifat home industry atau industri rumah tangga. Tak heran jika ia juga melakoni bisnis tersebut.

Meski rambutnya yang hitam telah berubah warna menjadi putih dan dengan usianya yang kini telah menginjak angka lima puluh tahun, masih terus ia jalani dengan bergumul dengan dunia logam.

Nurzaman biasa mengirimkan berbagai macam logam, terutama onderdil atau aksesoris sepeda, seperti stang dan footstep ke tangan para pelanggannya. Baik yang dari dalam maupun luar kota.

Ia membeli onderdil tersebut masih dalam bentuk bahan mentah dari para penjual besi bekas yang terletak tidak jauh dari tempat tinggalnya. Bahan tersebut kemudian Nurzaman olah menjadi barang setengah jadi, selebihnya ia percayakan kepada perusahaan vernikel untuk tahap penyelesaiannya

Nurzaman sendiri bisa mengirimkan pesanan sebanyak satu sampai dua kali dalam sebulan. Para pemesannya juga sudah terbilang lama menjalin kerjasama tersebut, yaitu para pemilik grosir di beberapa kota seperti Bandung, Surabaya, Semarang, juga Cirebon. meski demikian, ia juga tidak melupakan para pelanggan dari dalam kota.

“Para pelanggan saya kebanyakan para pemain lama, ya kira-kira sudah dua tahun”, katanya.

Dalam pengiriman tersebut, Nurzaman bisa menerima omzet antara empat sampai lima juta sekali kirim. Dan biasanya ia menerima pesanan dari pelanggan dengan total lima sampai sepuluh grosir tiap tahun.

ketika ada pemesan, ia merasa bahwa dengan adanya telepon seluler, maka komunikasi saat pengiriman barang bisa berjalan lancar. Tidak seperti ketika menggunakan telepon kabel yang sangat tidak fleksibel. Ia memakai komunikasi tersebut untuk memperlancar proses pengiriman barang kepada para pelanggannya, terutama yang berada di luar kota.

Ia juga tidak merasa bahwa beban atau anggaran untuk membiayai komunikasi tersebut memberatkan. Sebab, dalam seminggu ia hanya membutuhkan pulsa sekitar sepuluh ribu rupiah. Jika dibandingkan dengan omzetnya sebulan, maka dana tersebut masih terbilang kecil.

Dalam industri kecil, peran telepon seluler sangat penting, terutama saat proses pengiriman. entah pengiriman bahan baku maupun pengiriman ke tangan konsumen. ini karena proses pengiriman memerlukan komunikasi yang cukup efektif. Tanpa itu semua, maka proses pengiriman tersebut akan tertunda juga memakan biaya yang cukup mahal.

Tak seperti telepon rumah yang membutuhkan biaya obodemen yang mungkin memberatkan bagi pengusaha. Selain itu juga tidak praktis digunakan, terutama pengusaha tersebut kita sedang bepergian.

Semoga saja perkembangan seluler selanjutnya bisa memberikan aura positif yang lebih terhadap para pemilik industri rumah tangga di negara kita. Dengan demikian tidak hanya Nurzaman Tegal saja yang bisa meraup untung dengan dukungan komunikasi seluler, tetapi para Nurzaman-Nurzaman lain juga bisa menikmati manfaatnya dalam berbisnis.

Permalink 1 Komentar

Memoar of SMA

Juli 22, 2008 at 10:00 am (Uncategorized)

Masa SMA adalah masa yang sulit untuk dilupakan, dimana kita akan selalu terkenang dengan saat-saat itu. Rasanya kita ingin sekali kita untuk kembali kesana. Namun apa sih yang membuat kita selalu ingat dengan kenagan kita SMA dulu?

Saat kita bertemu dengan teman SMA kita dulu, pasti terbersit pertanyaan seperti ini, bagaimana keadaan mu sekarang?, kuliah atau kerja?, dimana?. Wah..pokoknya berbagai pertanyaan rasanya bertumpuk dan bercampur aduk jadi satu.

Kenangan waktu kita senang karena ranking satu atau baru jadian dengan seseorang yang kita suka, sebel karena dikerjain temen atau kena hukum oleh guru, marah, ataupun kecewa karena cinta kita ditolak, merupakan momen yang sulit untuk kita temui dalam kehidupan kita. Inilah yang menjadikan asam manis SMA menjadi sebuah kenangan yang cukup unik dan mengesankan.

Rasa kangen dan ingin kumpul bareng pasti ada tentunya. Tak heran jika rasanya kita ingin balik lagi pada masa-masa dulu, bahkan ada juga yang cuma melihat-lihat gedung sekolah hanya untuk mengurangi rasa rindu terhadap kenangan dulu.

Ditambah lagi kesibukan kita sehari-hari yang membuat kita kita sulit bertemu dengan teman lama membuat rasa kangen semakin menjadi. Ada yang masih kuliah, sudah kerja, jadi pengangangguran sukses, sampai ada yang sudah bekeluarga dan menjadi seorang ayah atau ibu. Pokoknya ribet deh kalo sudah kayak gini.

Karena itu, coba deh kalian luangkan waktu satu hari aja di hari libur dan kirim sms teman-teman dekat atau ce-es kalian untuk janjian ketemuan di sekolah kalian dulu. Meski ngobrol ngalor-ngidul di lingkungan sekolah, tapi itu cukup efektif lho. Apalagi kalo dibumbui dengan foto bareng di lingkungan sekolah, wah rasanya pasti seru deh.. kayak ini nih…

Permalink & Komentar

Menulis, Cara mencurahkan hati

Maret 1, 2008 at 1:03 pm (Uncategorized)

Menulis merupakan sebuah tantangan bagi kita untuk mempertemukan pikiran kita dengan jiwa dengan cara menyentuh perasaan kita.

Dalam hal ini, kita dapat menangkap sebuah ego kita yang tengah membumbung jauh dengan perantara imaji kita. Mungkin kita tidak tahu apa yang kita rasakan, namun dengan tulisan, kita mampu mengukur seberapa jauh dan dalamnya perasaan kita yang tengah bergejolak.

24-Februari 2008

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar